src='https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js'/> Contoh Skripsi Teknik Informatika Lengkap - teachertekno.com

Contoh Skripsi Teknik Informatika Lengkap

Contoh Skripsi Teknik Informatika - Skripsi adalah salah satu syarat utama dan menjadi tugas akhir bagi seorang mahasiswa memperoleh gelar sarjana. Dalam penulisan skripsi, diperlukan penelitian yang mendalam dan relevan dengan bidang studi yang diprogramkan.

Contoh Skripsi Teknik Informatika Lengkap
Contoh Skripsi Teknik Informatika Lengkap

Penulisan skripsi memang tidaklah mudah. Terutama dalam pemilihan judul skripsi harus benar-benar dipertimbangkan agar penelitian dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari impossible research. Sebagai contoh, berikut ini salah satu contoh skripsi teknik informatika lengkap dari bab 1 sampai bab 3. Untuk tahapan penelitian, kita belum masuk ke desain sistem. Jadi hanya untuk yang umum saja terutama pada bagian latar belakang dan masalah penelitian.

Contoh Skripsi Teknik Informatika Lengkap

Untuk format penulisan skripsi, setiap universitas dan fakultas memiliki standar penulisan masing-masing. Jadi, ikuti petunjuk penulisan skripsi sesuai baku kampus masing-masing.

PERANCANGAN TES ISHIHARA UNTUK DIAGNOSA BUTA WARNA SEJAK DINI BERBASIS WEBSITE

ANAK TORAJA

123456789

LOGO UNIVERSITAS

FAKULTAS TEKNIK KOMPUTER

UNIVERSITAS IT NUSANTARA dua

2019

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL............................................. i

KATA PENGANTAR............................................ Ii

DAFTAR ISI......................................................... Iii

DAFTAR GAMBAR............................................ Iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang................................................ 1

1.Dua Rumusan Masalah............................................ Tiga

1.Tiga Tujuan Penelitian............................................. Tiga

1.4 Manfaat Penelitian........................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Kajian Teori..................................................... 4

2.2  Hasil Penelitian yang Relevan......................... 9

2.3  Kerangka Pikir................................................ 11

BAB III METODE PENELITIAN

3.1  Jenis Penelitian ............................................ 12

3.2  Tempat dan Waktu Penelitian...................... 12

3.3  Batasan Penelitian....................................... 13

3.4  Tahapan Penelitian....................................... 13

DAFTAR PUSTAKA.......................................... 14

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1.      Gambar 1 Contoh Tes Ishihara...................... 6

2.      Gambar 2 Kerangka Pikir.............................. 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap sesuatu spectrum warna tertentu yang disebabkan oleh faktor genetis. Pada retina manusia normal terdapat dua jenis sel sensitif terhadap cahaya, yaitu sel batang (rod cell) yang aktif pada cahaya rendah, kemudian sel kerucut (cone sell) yang aktif pada cahaya yang intensitasnya tinggi (terang). Sel kerucut inilah yang membuat kita dapat melihat warna-warna dan membedakan warna (Yanuarita, 2011).

Buta warna dibagi sebagai 2 bagian, yaitu buta warna total dan buta warna parsial, dimana dalam buta warna total seorang hanya melihat semua warna sebagai hitam & putih saja, sedangkan dalam buta rona parsial, seorang mengalami kesulitan dalam membedakan rona tertentu misalnya merah, hijau & biru (Wikipedia, 2016).

Jika dibandingkan menggunakan perempuan , umumnya pria lebih poly ditemukan mengalami buta warna menggunakan perbandingan 20:1. Hal ini sejalan menggunakan penelitian yg dilakukan di Eropa dimana kurang lebih 8-12% pria mengalami buta warna sedangkan perempuan hanya 0,5-1% (Kurnia, 2009).

Jumlah penyandang buta warna di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Dari total penduduk yang berjumlah 255 juta jiwa, sebesar 0,7% mengalami kelainan genetika yang penyandangnya tidak mampu membedakan tingkat gradasi suatu warna (Afkarina, dkk. 2017).

Umumnya, orang yang mengalami buta rona tidak menyadari keadaannya sebelum melakukan tes buta warna. Sebagian akbar penderita buta rona tetap bisa melaksanakan kegiatan sehari-hari layaknya orang yg memiliki penglihatan normal. Hal ini ternyata ditentukan oleh taraf & jenis buta warna yang dialami.

Masalah yang timbul kemudian merupakan poly orang yg kehilangan peluang buat masuk ke perguruan tinggi atau menerima pekerjaan karena mengalami buta warna. Tidak sedikit yg kecewa dan putus asa lantaran nir memenuhi kondisi yang ditetapkan tadi. Kegagalan ini diperparah menggunakan persiapan berupa waktu dan materi yg seakan sia-sia.

Mengantisipasi perkara tersebut, sangat krusial untuk mengetahui semenjak dini apakah seorang menderita buta rona atau tidak. Tentu ini akan menjadi sebuah langkah yg sangat positif saat kita mampu mendeteksi buta rona lebih awal. Terutama sejak masih anak-anak menggunakan asa kita akan lebih mudah mendorong anak buat menyebarkan minat & potensinya pada bidang yang nir menuntut tes buta warna.

Salah satu cara untuk mengetahui seseorang buta warna atau tidak adalah dengan melakukan tes buta warna metode Ishihara. Ishihara adalah serangkaian lingkaran yang terdiri dari kumpulan titik-titik berbentuk lingkaran dengan kombinasi warna tertentu yang membentuk pola-pola tertentu seperti angka. Orang dengan penglihatan normal dapat membaca pola-pola dalam lingkaran tersebut dan orang yang buta warna akan kesulitan melihat pola-pola tersebut. Umumnya tes Ishihara menjadi salah satu bagian dalam tes MCU (medical check up) yang menjadi syarat wajib beberapa perusahaan atau instansi, secara khusus di bidang teknik, militer dan kedokteran.

Namun saat ini tes Ishihara yang dipakai sebagian besar perusahaan masih berbasis kitab . Selain itu, kurangnya kesadaran dan pengenalan mengenai pentingnya deteksi dini buta warna membuat sebagian akbar orang masih acuh tak acuh terhadap masalah buta rona. Mereka baru menyadari tentang kasus buta rona ketika gagal pada tes buta rona dalam proses tes kesehatan. Tentu hal ini sangat disayangkan.

Menyadari hal tadi, sangat diharapkan sebuah sistem yang sanggup membantu dalam proses tes buta rona secara berdikari dan bisa dipakai menggunakan mudah. Dengan harapan, setiap orang mampu meminimalisir kegagalan pada tes menggunakan menetapkan buat menekuni sebuah bidang dan melamar pekerjaan sesuai dengan kualifikasi yg diperlukan, khususnya pekerjaan tanpa tes buta rona. Sistem yang terintegrasi ini berupa website yang mampu dimanfaatkan setiap orang buat tes buta warna dan pula berisi kabar perusahaan & instansi yg membutuhkan energi kerja yg nir menggunakan kondisi tes buta rona.

Berdasarkan uraian latar belakang kasus di atas, maka penulis berkeinginan buat menuangkan perseteruan tersebut ke dalam sebuah penelitian yg nantinya menjadi sebuah skripsi yang berjudul ?Perancangan Tes Ishihara Untuk Diagnosa Buta Warna Sejak Dini Berbasis Website?.

1.Dua. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka yang menjadi perumusan masalah adalah:

1. Bagaimana merancang sebuah website tes Ishihara buat mendiagnosa buta warna?

Dua. Bagaimana membuat sistem yg terintegrasi berupa website yang menyediakan informasi tentang pekerjaan tanpa kondisi tes buta rona?

Tiga. Bagaimana melakukan pengenalan tentang pentingnya deteksi buta warna sejak dini?

1.Tiga Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulis melakukan penelitian dan perancangan website tes Ishihara, yaitu:

1. Untuk memudahkan mendeteksi kelainan pada mata berupa buta warna sejak dini.

2. Untuk memberikan warta tentang pekerjaan tanpa syarat tes buta warna yg mampu sebagai solusi bagi orang yg mengalami buta warna.

3. Untuk meminimalisir kekecewaan dan kerugian lantaran gagal menerima pekerjaan karena terkendala buta rona.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka diharapkan penelitian ini bisa memberikan manfaat sebagai berikut.

1. Dapat memudahkan seseorang buat melakukan tes buta warna secara berdikari.

Dua. Dapat mendeteksi buta rona sejak dini yang kemudian sebagai pertimbangan pada mempersiapkan diri lebih awal buat menekuni bidang yang nir menuntut tes buta warna.

Tiga. Dapat memberikan berita mengenai bidang pekerjaan yang tidak membutuhkan tes buta warna menjadi solusi bagi yg mengalami buta warna.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

Teori yang menjadi landasan dalam penelitian ini meliputi: buta warna, tes Ishihara, dan website.

1. Buta Warna

a. Pengertian Buta Warna

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap sesuatu spektrum warna tertentu yang disebabkan oleh faktor genetis. Pada retina manusia normal terdapat dua jenis sel sensitif terhadap cahaya, yaitu sel batang (rod cell) yang aktif pada cahaya rendah, kemudian sel kerucut (cone sell) yang aktif pada cahaya yang intensitasnya tinggi (terang). Sel kerucut inilah yang membuat kita dapat melihat warna-warna dan membedakan warna (Yanuarita, 2011).

Buta rona yang sering diistilahkan colour blind sebenarnya nir tepat, lantaran seorang penderita buta rona tidak buta rona seluruhnya. Orang yg mengalami buta rona tidak hanya melihat warna hitam dan putih saja, tetapi yg terjadi adalah kelemahan dalam penglihatan rona-warna eksklusif contohnya kelemahan dalam warna merah, hijau, kuning, atau biru. Lantaran itulah, kata buta warna lebih tepat jika disebut tanda-tanda defisiensi daya melihat rona tertentu saja atau colour vision difiency (Ganong, 2003).

Meskipun demikian, ada jua perkara buta warna total yg membuat seorang hanya bisa melihat warna hitam atau putih saja. Tetapi perkara buta rona total atau istilahnya monokromasi ini sangat jarang ditemukan.

B. Jenis-jenis Buta Warna

Prasetyono 2015 (pada Kurniadi, Fauzi, & Mulyani, 2016:452) menyatakan bahwa buta warna dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:

1) Trikomasi, merupakan perubahan sensitivitas dari suatu jenis atau lebih sel kerucut yg dibagi atas 3 macam, yaitu:

a) Protanomali, kelemahan warna merah yang termasuk stigma penglihatan ringan.

B) Deuteromali, kelemahan rona hijau yang ditimbulkan oleh pergeseran direseptor retina hijau.

C) Tritanomali, kelemahan rona biru yg termasuk jenis yang langka.

Dua) Dikromasi, yaitu stigma penglihatan rona cukup parah yang terjadi lantaran salah satu dari tiga prosedur warna dasar tidak ada atau nir berfungsi. Dikromasi terdiri berdasarkan 3 macam, yaitu:

a) Protanopia, yaitu tidak adanya sel kerucut rona merah.

B) Deuteranopia, yaitu tidak adanya sel kerucut yang peka terhadap rona hijau.

C) Tritanopia, yaitu nir adanya sel kerucut yang peka terhadap warna biru.

3) Monokromasi, yaitu kurangnya kemampuan buat membedakan warna sebagai akibatnya orang selalu memandang segala sesuatu seolah-olah berwarna hitam & putih saja yg disebabkan nir adanya kerucut. Monokromasi terjadi waktu dua atau tiga kerucut dan pigmen rona hilang dan cahaya yang terlihat menjadi suatu dimensi. Monokromasi dibedakan atas dua jenis, yaitu:

a) Monokromasi batang (akromatopsia), yakni retina tidak mengandung sel kerucut, sebagai akibatnya selain tidak adanya disparitas rona, sangat sulit buat membedakan rona dalam intensitas penerangan normal.

B) Monokromasi kerucut, yaitu kondisi mata yang memiliki 2 btg & kerucut, namun hanya satu jenis kerucut yg berfungsi. Sebuat kerucut monokromat dapat memiliki pola penglihatan yang baik dalam tingkat normal pada siang hari, tetapi nir bisa membedakan rona.

Dua. Tes Ishihara

Tes Ishihara merupakan galat satu jenis tes yang umum dipakai buat mendeteksi seseorang yang mengalami buta rona. Menurut Guyton (1997), metode Ishihara merupakan metode yang dapat digunakan buat memilih menggunakan cepat suatu kelainan buta warna yg berdasarkan dalam penggunaan kartu bertitik-titik atau biasa disebut "Plat Ishiharadanquot;.

Tes Ishihara dikembangkan sang seorang professor pada Universitas Tokyo bernama Dr. Shinobu Ishihara & pertama kali dipublikasikan dalam tahun 1917 di Jepang & terus digunakan sang berbagai instansi & perusahaan menjadi salah satu kualifikasi tes kesehatan yg harus dilulusi peminat.

Tes buta rona dengan metode Ishihara terdiri berdasarkan lembaran yg di dalamnya terdapat titik-titik menggunakan berbagai rona dan ukuran yg disusun berbentuk lingkaran yang di dalamnya masih ada pola tertentu. Orang menggunakan penglihatan normal dapat melihat pola-pola yang terbentuk berdasarkan titik-titik tersebut. Sedangkan orang yang mengalami buta warna akan kesulitan dalam melihat pola tadi.

Berikut ini keliru satu model gambar plat yg digunakan dalam tes Ishihara:

tes ishihara
Gambar 1. Tes Ishihara

Orang menggunakan mata normal akan melihat angka tiga (Gambar 1), tetapi orang yg mengalami buta rona akan kesulitan dalam melihat pola dalam plat tersebut.

3. Website

Website adalah kumpulan page-halaman yang digunakan buat menampilkan warta teks, gambar diam atau mobilitas, animasi, suara atau campuran berdasarkan semuanya, baik yg bersifat tidak aktif maupun bergerak maju yang membentuk satu rangkaingan bangunan yang saling terkait, yang masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (Bekti, 2015).

File-file yang menciptakan sebuah website disimpan di sebuah web hosting yang adalah server berdasarkan website yg bisa diakses melalui jaringan internet. Untuk mengakses sebuah website, kita mengetikkan nama domain pada halaman pencarian web browser (Google Chrome, Mozila Firefox atau yg lainnya. Domain adalah alamat unik setiap laman web pada internet.

Berikut ini merupakan komponen-komponen pada sebuah website.

A. Bahasa Pemrograman

Bahasa pemrograman merupakan sekumpulan intruksi dengan bahasa-bahasa tertentu yang dipakai untuk merancang sebuah program. Dalam menciptakan website, setidaknya bahasa pemrograman yg dibutuhkan adalah sebagai berikut.

1) HTML

HTML (Hypertext Markup Language) adalah bahasa utama yang digunakan untuk membangun kerangka dasar sebuah website.

HTML adalah bahasa pemrograman yg digunakan buat mendesain sebuah halaman web (Bekti, 2015). Secara sederhana, HTML merupakan bahasa yg menjadi dasar terbentuknya sebuah website.

Dua) CSS

CSS merupakan bahasa yang digunakan untuk mengatur format HTML. CSS umumnya dikenal menjadi bahasa buat mengatur tampilan suatu website, baik menurut segi tata letak, goresan pena, rona dan hal-hal yg berkaitan dengan tampilan website.

CSS (Cascanding Style Sheet) merupakan bahasa pemrograman yang digunakan untuk mengendalikan dan membangun komponen web sehingga tampilan web akan lebih rapi, terstruktur, interaktif, dan seragam. Program ini wajib dikuasai oleh setiap pembuat web program (Web Programmer) terutama oleh Web Designer (Saputra dan Agustin, 2011).

Dengan menggunakan CSS, mengatur format tampilan website sebagai lebih gampang dan cepat. Bisa dikatakan CSS merupakan bahasa yang melengkapi HTML akan tetapi bukan berarti CSS bisa menggantikan HTML.

Tiga) JavaScript

JavaScript adalah bahasa pemrograman berbasis obyek yang berjalan di sisi pengguna (client side) yang dieksekusi dibrowser ketika seseorang mengakses website. Meskipun populer dalam website, JavaScript juga adalah bahasa pemrograman kompleks yang berdiri sendiri dan bisa digunakan dalam teknologi lainnya.

JavaScript adalah bahasa pemrograman yang dijalankan (interprete) oleh browser pada saat halaman web dibuka. Javascript dapat digunakan untuk menjadikan halaman web yang dibuat lebih dinamis dan responsif, seperti menampilkan pesan pop-up setelah melakukan registrasi online (Sibero, 2011).

JavaScript adalah keliru satu bahasa pemrograman yg populer dalam menciptakan website yg lebih interaktif. Penggunaan JavaScript pada website menciptakan website terlihat lebih powerful.

4) PHP

Berbeda dengan JavaScript yang berjalan di sisi pengguna, PHP adalah bahasa pemrograman yang berjalan di sisi server (server side). PHP ditulis dalam dokumen HTML untuk mengeksekusi perintah di server.

PHP (Hypertext Preprocessor) adalah bahasa server side scripting yang menyatu dengan HTML untuk membuat halaman web yang dinamis. Maksud dari server side scripting adalah sintaks dan perintah-perintah yang diberikan akan sepenuhnya akan dijalankan di server tetapi disertakan pada dokumen HTML. Pembuatan web ini merupakan kombinasi antara PHP sendiri sebagai bahasa pemrograman dan HTML sebagai pembangun halaman web (Hendrianto, 2014).

Secara umum PHP dipakai buat mengakses database server & bertujuan buat menciptakan website menjadi lebih dinamis.

B. Web Server

Sesuai menggunakan namanya, web server pada dasarnya bertugas buat memberikan layanan kepada pengakses sebuah website.

Web server adalah personal komputer yang dipakai buat menyimpan dokumen-dokumen web, komputer ini melayani permintaan dokumen web dari kliennya (Kustiyahningsih & Devie, 2011).

C. Database

Database atau basis data secara sederhana didefinisikan menjadi sekumpulan data yang saling terkait. Tujuan utama menurut database adalah supaya data-data gampang dikelola & cepat & sempurna ketika dibutuhkan.

Basis data adalah sekumpulan data yg diproses menggunakan donasi personal komputer yang memungkinkan data bisa diakses menggunakan mudah dan tepat, yang dapat digambarkan sebagai kegiatan dari satu atau lebih organisasi yang berelasi (Kustiyahningsih dan Devie, 2011).

D. MySQL

MySQL adalah salah satu RDBMS (Relation Database Management System) yang banyak digunakan untuk menghubungkan database dengan PHP menggunakan sekumpulan query dan escape character.

MySQL (My Structure Query Language) merupakan sebuah program pembuatan dan pengelola database atau yg seringkali diklaim menggunakan DBMS (Database Management System) (Nugroho, 2010).

Berdasarkan definisi pada atas, bisa disimpulkan bahwa MySQL adalah adalah sebuah acara buat memanajemen database yang ada di web server dengan query tertentu.

Dua.2 Hasil Penelitian yg Relevan

Penelitian mengenai perancangan Aplikasi Tes Buta Warna dengan Metode Tes Ishihara sudah beberapa kali dilakukan. Aplikasi tes buta warna yang dihasilkan umumnya hanya sebatas untuk mendiagnosa seseorang buta warna atau tidak. Selain itu, beberapa aplikasi tes buta warna juga lebih banyak bertujuan untuk membantu perusahaan dalam melakukan tes buta warna namun tidak memberikan manfaat bagi orang yang mengalami buta warna.

Berikut ini beberapa surat keterangan yang dijadikan acuan pada penelitian ini:

1. Ratri Widianingsih, Awang Harsa Kridalaksana, dan Ahmad Rofiq Hakim (2010) mengenai "Aplikasi Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara Berbasis Komputerdanquot;. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Ishihara berbasis komputer. Dalam penelitiannya, perancangan pelaksanaan menggunakan aplikasi Visual Basic 6.0 menggunakan database Microsoft Access 2007. Hasil menurut penelitian ini berupa suatu aplikasi desktop yang menampilkan halaman buat tes buta rona metode Ishihara yang membuat form surat keterangan sesuai dengan output tes, yaitu rona total, buta warna parsial, atau mata normal dengan studi perkara POLTABES Samarinda.

2. Hartono & Ricky Christian Naibaho (2013) tentang "Sistem Pakar Diagnosa Buta Warna Berbasis Android". Penelitian ini bertujuan buat merancang sebuah sistem tes buta warna yg terkomputerisasi memakai pelaksanaan Google App Inventor & Java. Penelitian ini membuat sebuah aplikasi android yang dapat dimanfaatkan buat tes buta warna metode Ishihara dengan output diagnosa terbatas hanya buat mengetahui seseorang buta warna atau nir.

3. Prasetya Purnamasari (2015) melakukan penelitian tentang "Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara Berbasis Komputer (Kelas XI Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3 Semarang)". Metode penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan teknik pengumpulan data berupa angket kepada responden. Hasil dari penelitian ini berupa aplikasi tes buta warna metode Ishihara yang hanya menampilkan hasil tes seseorang berupa buta warna total, parsial, atau normal.

Berdasarkan referensi di atas, penelitian ini lebih berfokus pada pembuatan tes buta warna metode Ishihara berbasis website yang dapat diakses melalui internet dan apa yang harus dilakukan selanjutnya bagi orang yang mengalami buta warna. Hasil diagnosa berdasarkan tes pengguna akan menghasilkan buta warna parsial, buta warna total, atau mata normal.

Kelebihan dari penelitian ini adalah menghasilkan sebuah website tes buta warna yang dapat memberikan informasi tentang bidang pekerjaan yang mewajibkan tes buta warna dan juga solusi mengenai informasi pekerjaan bagi orang yang buta warna.

2.3 Kerangka Pikir

Adapun kerangka pikir penelitian ini dimulai dari mendalami pokok permasalahan hingga menghasilkan sebuah solusi yang dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut:

contoh kerangka pikir
Gambar 2. Kerangka Pikir

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) atau penelitian dan pengembangan. Hal ini didasarkan pada kebutuhan untuk menghasilkan produk tertentu yang keefektifannya dapat langsung diuji. Berdasarkan karakteristik tersebut, peneliti ingin mendapatkan selengkap mungkin informasi mengenai hasil implementasi website tes buta warna metode Ishihara.

Proses penelitian dan pengembangan sistem ini menggunakan pendekatan metode waterfall. Hal ini karena metode waterfall memiliki tahapan yang sistematis dimulai dari proses observasi, analisis dan pengumpulan data, perancangan sistem, pembuatan program, pengujian dan implementasi. Sesuai dengan karakteristik tersebut, maka peneliti berusaha membuat sebuah metode tes buta warna berbasis website yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian di lakukan di SMA Negeri 3 Baebunta Kabupaten Luwu Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu sejak bulan Oktober 2019 sampai November 2019.

Contoh Tahapan Penelitian Skripsi
Tahapan Penelitian

3.3 Batasan Penelitian

Dalam penelitian dan pengembangan website ini, untuk menghindari penyimpangan dalam penulisan tugas akhir, peneliti membatasi masalah yang dibahas antara lain:

1. Tes buta warna ini menggunakan metode Ishihara berbasis website.

2. Pembuatan website menggunakan HTML, CSS, JavaScript, dan PHP.

3. Website dapat diakses menggunakan laptop atau hp yang terhubung dengan jaringan internet.

4. Pengimplementasian berfokus pada pembuatan website tes buta warna dan manfaatnya.

5. Metode pengujian dilakukan secara localhost dan internet untuk menguji kepuasan pengguna. Pengujian website hanya dilakukan di lingkungan SMAN 3 Baebunta.

3.4 Tahapan Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian harus didukung oleh data dan informasi yang akurat. Dalam penelitian ini, beberapa metode pengumpulan data yang digunakan antara lain:

a. Studi Pustaka

Studi pustaka adalah suatu cara mendapatkan data dan informasi secara teoritis melalui dokumen seperti hasil evaluasi dan laporan dari penelitian lapangan, buku-buku maupun jurnal terkait penelitian. Aspek-aspek yang diperoleh dari studi pustaka dalam penelitian ini seperti teori mendasar tentang buta warna, tes Ishihara dan website.

b. Wawancara

Wawancara adalah suatu cara mendapatkan data dan informasi melalui interaksi lisan tanya jawab dengan narasumber. Tanya jawab dilakukan dengan pakar (dokter mata) yang ahli di bidangnya untuk mendukung data studi pustaka. Selain itu, juga diadakan wawancara tanya jawab dengan beberapa siswa yang mengalami buta warna untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam dan akurat tentang buta warna.

DAFTAR PUSTAKA

Afkarina, Rizza, dkk. 2017. Rancang Bangun Aplikasi Pengenalan Warna Objek Bagi Penyandang Buta Warna Berbasis Web. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Terapan Riset Inovatif Tahun 2017, UPT P2M Politeknik Negeri Malang, Hotel Aria Gajayana, Malang. 23-24 November 2017.

Bekti, H. B. 2015. Mahir Membuat Website dengan Adobe Dreamweaver CS6, CSS dan JQuery. ANDI. Yogyakarta.

Ganong, W. F. 2003. Buku Ajar Kedokteran Edisi Dua Puluh. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Guyton, A.C. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Sembilan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Hartono dan Naibaho, R. C. 2013. Sistem Pakar Diagnosa Buta Warna Berbasis Android. Jurnal STMIK IBBI. 119-126.

Hendrianto, D. E. 2014. Pembuatan Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Website Pada SMA Negeri 1 Donorejo Kabupaten Pacitan. IJNS. 3(4):57-64.

Kurnia, Rahmadi. 2009. Penentuan Tingkat Buta Warna Berbasis HIS Pada Citra Ishihara. Fakultas Teknik Universitas Andalas. Padang.

Kurniadi, Dede, M. Mesa Fauzi dan Asri Mulyani. 2016. Aplikasi Simulasi Tes Buta Warna Berbasis Android Menggunakan Metode Ishihara. Jurnal Algoritma Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 13(1):452.

Kustiyahningsih dan Devie. 2011. Pemrograman Basis Data Berbasis Web Menggunakan PHP & MySQL. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Nugroho, B. 2013. Dasar Pemrograman Web PHP-MySQL dengan Dreamweaver. Gava Media. Yogyakarta.

Prasetyono, Dwi Sunar. 2015. Cerdas Tes Buta Warna. Saufia. Yogyakarta.

Purnamasari, Prasetya. 2015. Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara Berbasis Komputer (Kelas XI Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Negeri 3 Semarang). Skripsi tidak diterbitkan. Semarang: Fakultas Teknik - Universitas Negeri Semarang.

Saputra, Agus dan Feni Agustin. 2011. Pemrograman CSS Untuk Pemula. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Sibero, F. K. 2011. Kitab Suci Web Programing. MediaKom. Yogyakarta.

Widianingsih, Ratri, Awang Harsa Kridalaksana, dan Ahmad Rofiq Hakim. 2010. Aplikasi Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara Berbasis Komputer. Jurnal Informatika Mulawarman. 5(1):36-40.

Yanuarita, Andri. 2011. Tes Buta Warna. Rona Publishing. Yogyakarta.

Lihat jugaMakalah Sistem Pendukung Keputusan

0 Response to "Contoh Skripsi Teknik Informatika Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel